Menjelang Lebaran, Momin selalu ingin menyambutnya dengan hati yang lapang dan penuh kebahagiaan. Namun beberapa tahun lalu, yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih merasa tenang, Momin dihantui kecemasan karena pengeluaran yang terus membengkak sejak awal Ramadan. Setiap hari terasa selalu ada kebutuhan baru yang seolah-olah “harus” dipenuhi.
Pengalaman terberat terjadi menjelang hari raya. Saldo tabungan hampir habis, padahal Lebaran belum tiba. Harga kebutuhan melonjak, belanja tidak terkontrol, dan keputusan keuangan sering diambil tanpa pertimbangan matang. Saat itulah Momin menyadari bahwa semangat Lebaran bisa berubah menjadi tekanan jika tidak disertai perencanaan yang baik.
Lebih menyakitkan lagi, setelah Idulfitri berlalu, Momin harus menghadapi kenyataan pahit: kondisi keuangan benar-benar menipis. Hari-hari setelah Lebaran dipenuhi penghematan ekstrem dan rasa penyesalan karena terlalu longgar dalam mengatur pengeluaran. Dari situlah Momin belajar bahwa ketenangan Lebaran bukan berasal dari banyaknya belanja, melainkan dari kondisi finansial yang terkendali.
Kini, Momin memilih cara berbeda dalam menyambut hari raya. Berbekal pengalaman di masa lalu, ia ingin berbagi cara menyiasati pengeluaran di tengah tekanan ekonomi agar Lebaran tetap bermakna tanpa dibayangi kecemasan finansial.
Sadari Kondisi Keuangan dan Turunkan Ekspektasi
Langkah pertama yang dilakukan Momin adalah bersikap jujur terhadap kondisi keuangan sendiri. Di tengah tekanan ekonomi, tidak realistis memaksakan standar Lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Lebaran yang sederhana bukanlah kegagalan, melainkan bentuk kedewasaan dalam mengelola keuangan.
Dengan memahami batas kemampuan, Momin bisa fokus pada kebutuhan utama dan menghindari pengeluaran yang hanya didorong oleh gengsi atau kebiasaan lama. Cara ini bukan hanya menjaga kondisi finansial, tetapi juga kesehatan mental.
Atur Pengeluaran Berdasarkan Prioritas, Bukan Kebiasaan
Dulu, Momin berbelanja mengikuti kebiasaan tahunan tanpa mengevaluasi apakah semuanya masih relevan. Kini, ia mulai menyusun daftar prioritas. Zakat, kebutuhan pokok, dan keperluan keluarga inti menjadi fokus utama.
Sementara pengeluaran tambahan seperti baju baru atau hidangan berlebihan dipertimbangkan kembali. Dengan memprioritaskan hal yang benar-benar penting, pengeluaran menjadi lebih terarah dan tidak mudah lepas kendali.
Sisakan Dana untuk Setelah Lebaran
Pelajaran terbesar yang Momin dapatkan adalah pentingnya memikirkan kondisi keuangan setelah Lebaran. Ia selalu menyisihkan sebagian dana sebelum hari raya, meskipun jumlahnya tidak besar. Dana tersebut menjadi penyangga agar kehidupan setelah Lebaran tetap berjalan normal.
Dengan langkah ini, Momin tidak lagi merasa panik ketika hari raya usai. Keuangan tetap stabil, pikiran lebih tenang, dan rasa syukur lebih mudah hadir karena Lebaran dijalani tanpa beban berlebih.
Lebaran Bermakna Bukan Soal Banyaknya Belanja
Lebaran di tengah tekanan ekonomi memang penuh tantangan. Namun dengan perencanaan yang realistis dan kesadaran terhadap prioritas, hari raya tetap bisa dijalani dengan tenang dan penuh makna.
Semoga pengalaman dan tips dari Momin ini dapat membantu kamu menyambut Idulfitri dengan hati yang lebih damai dan dompet yang lebih aman.
Twibbon Idul Fitri 2026
Sering kali kita tidak benar-benar sadar bahwa Lebaran sudah semakin dekat. Bukan hanya soal tanggalnya, tetapi juga tentang kesiapan diri—terutama kesiapan finansial. Tanpa persiapan, semuanya bisa terasa berantakan.
Di sinilah tren Twibbon Idul Fitri 2026 bisa menjadi pengingat yang positif. Selain sebagai bentuk partisipasi dan semangat menyambut hari raya, Twibbon juga bisa menjadi pengingat bersama bahwa Lebaran akan segera tiba. Saatnya mempersiapkan diri, baik secara spiritual maupun finansial, agar momen Idulfitri benar-benar membawa ketenangan dan kebahagiaan.
- Pilih Twibbon sesuai pilihan
- Pilih foto/gambar
- Atur agar foto/gambar pas di frame
- Download
- Selesai




